Berita Nasional

Purbaya: APBN Masih Cukup Tahan Tekanan Harga Minyak

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup kuat untuk menahan tekanan kenaikan harga minyak dunia yang melonjak dalam beberapa hari terakhir.

Pemerintah saat ini memilih memantau perkembangan pasar energi global sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut.

Lonjakan harga minyak menjadi perhatian setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan tajam harga energi global. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga minyak dunia menembus level 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir.

Berdasarkan laporan Oil Price pada pukul 19:45 WIB, dua acuan utama minyak global mengalami kenaikan signifikan. Harga minyak jenis Brent Crude tercatat sekitar 102,8 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 100,9 dolar AS per barel pada pukul 19.45 WIB.

Menanggapi lonjakan tersebut, Purbaya mengatakan pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk menahan dampaknya terhadap APBN.

“Sekarang masih kita pantau,” ujar Purbaya seusai meninjau aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Ia menambahkan kondisi fiskal negara saat ini masih cukup untuk menahan tekanan kenaikan harga energi.

“Karena uangnya masih cukup,” kata Purbaya.

Menurut Purbaya, kenaikan harga minyak dunia memang berpotensi meningkatkan beban subsidi energi. Namun perhitungan dampaknya terhadap APBN dilakukan berdasarkan rata-rata harga minyak dalam setahun penuh, bukan fluktuasi harga harian.

“Akan naik pasti, tapi diasumsikan dalam setahun penuh. Kalau sekarang US$ 100 per barel, habis itu jatuh ke US$ 50  per barel, rata-ratanya bisa sama dengan kemarin,” ujar Purbaya.

Ia juga menegaskan hingga saat ini pemerintah belum memiliki rencana untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.

“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk merubah subsidi BBM dalam pengertian naikin harga BBM,” kata Purbaya.

Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$ 70 dolar AS per barel. Sementara lifting minyak bumi ditargetkan mencapai 610.000 barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 984.000 barel setara minyak per hari.

Postur APBN 2026 sendiri mencatat pendapatan negara sebesar Rp 3.153,58 triliun dan belanja negara Rp 3.842,72 triliun. Dengan struktur tersebut, defisit anggaran dipatok Rp 698,15 triliun atau sekitar 2,68% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Hingga akhir Februari 2026, realisasi APBN menunjukkan pendapatan negara mencapai Rp 358 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp 493,8 triliun. Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN tercatat Rp 135,7 triliun atau sekitar 0,53% terhadap PDB.

Selain kondisi fiskal, pemerintah juga memastikan ketersediaan stok energi nasional masih berada dalam kondisi aman.

“Ini kan stoknya 20 hari, berarti berlebih, bukan habis. Kalau distok setahun kan rugi,” ujar Purbaya.

Ia menegaskan pengelolaan stok minyak dilakukan secara optimal sesuai kebutuhan operasional dan pemerintah tetap membuka peluang pembelian tambahan jika diperlukan.

“Pasti selalu terbuka,” kata Purbaya.

Pemerintah, lanjutnya, akan terus memantau perkembangan harga energi global sebelum menentukan langkah kebijakan lanjutan.

“Sekarang masih kita pantau,” pungkas Purbaya (bsnn)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button