Moronene: Darah Petani Neolitik, Jiwa Pelaut Austronesia
Oleh: Kasra J. Munara

Siapa sebenarnya orang Moronene?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi ketika dijawab melalui bahasa, adat, sejarah migrasi, dan kini genetika, jawabannya justru semakin dalam.
Hasil penelusuran DNA melalui fitur Ancient Origins dan Hunter-Gatherer & Farmer Breakdown menunjukkan satu pola yang menarik: komponen terbesar garis keturunan saya berasal dari kelompok petani Neolitik Asia Timur, dengan proporsi sekitar 85 persen.
Sementara sisanya menunjukkan jejak pemburu-peramu Asia Timur purba yang beririsan dengan populasi Melanesia dan kelompok Asia Timur kuno lainnya.
Apa maknanya?
Darah Petani Neolitik
Sekitar 8.000–5.000 tahun lalu, kawasan Sungai Kuning di Asia Timur menjadi pusat revolusi pertanian. Di sana manusia mulai menetap, mengembangkan budidaya padi dan millet, membangun permukiman tetap, dan membentuk struktur sosial yang lebih kompleks.
Gelombang masyarakat agraris ini kemudian bergerak ke selatan—menuju Taiwan, Filipina, dan akhirnya menyebar ke berbagai wilayah Nusantara.
Jika komposisi genetik menunjukkan kedekatan dengan populasi petani Neolitik tersebut, maka dapat dipahami bahwa leluhur Moronene adalah bagian dari arus besar pembentuk Asia maritim awal.
Ini menjelaskan mengapa struktur adat Moronene tidak lahir secara spontan. Ia tumbuh dari tradisi masyarakat yang sudah mengenal tata kelola wilayah, sistem kepemimpinan, dan pola hidup menetap.
Moronene bukan sekadar komunitas yang muncul karena adanya lembaga kerajaan. Moronene adalah keturunan masyarakat pembangun.
Jiwa Pelaut Austronesia
Namun cerita Moronene tidak berhenti di sawah.
Gelombang Neolitik Asia Timur inilah yang kemudian menjadi cikal bakal ekspansi Austronesia—salah satu migrasi maritim terbesar dalam sejarah manusia.
Dari Taiwan, mereka bergerak ke Filipina, lalu menyeberang ke Sulawesi dan wilayah timur Nusantara.Jalur laut Mindanao–Sulawesi menjadi koridor penting dalam perjalanan itu.Mereka membaca angin, mengikuti arus, dan membawa bahasa yang kini kita kenal sebagai rumpun Austronesia.
Di jazirah Sulawesi Tenggara, identitas Moronene bertumbuh. Ia menyerap alam, membentuk adat, dan menata kehidupan.Jika darah Moronene membawa warisan petani Neolitik, maka jiwanya membawa semangat pelaut Austronesia.
Lapisan yang Lebih Tua dari Pertanian
Hasil DNA juga menunjukkan adanya lapisan pemburu-peramu purba—sekitar 6–8 persen—yang beririsan dengan populasi Melanesia dan Asia Timur kuno.Ini bukan soal klaim asal-usul lintas benua. Ini pengingat bahwa sebelum pertanian dan sebelum identitas etnis, manusia Asia berbagi akar yang sama.
Moronene adalah hasil pertemuan zaman: zaman hutan dan zaman sawah, zaman perahu dan zaman permukiman tetap. Artinya, identitas Moronene lahir dari proses panjang, bukan dari satu garis tunggal.
Mengapa Ini Penting Hari Ini?
Karena identitas bukan hanya soal masa lalu. Leluhur Moronene adalah generasi yang mampu bergerak melintasi laut dan membangun peradaban.Moronene bukan generasi yang lahir dari kebetulan tapi lahir dari perjalanan Panjang sejarah manusia.DNA mungkin hanya data ilmiah. Namun ia menyampaikan pesan yang sederhana:
Moronene bukan pinggiran sejarah. Ia adalah bagian dari arus besar manusia Asia yang membentuk kawasan ini.
Memperkuat Hipotesis
Tentu, hasil DNA pribadi tidak otomatis mewakili seluruh populasi Moronene. Penelitian yang lebih luas tetap diperlukan agar tidak terjadi generalisasi.
Namun sebagai petunjuk awal, ia memperkuat hipotesis migrasi yang telah lama dibahas melalui pendekatan linguistik dan antropologis.Pada tulisan sebelumnya di media ini pernah saya ungkapkan bahwa hasil uji DNA memperkuat hipotesis migrasi leluhur Moronene melalui Filipina.
Hipotesis yang sama saya tulis dalam buku Moronene dalam Lintasan Sejarah dan Jejak Peradaban Austronesia kini mendapat penguatan baru dari sisi genetika. (**)

