Wamen Dikti Sains dan Teknologi Dorong Hilirisasi Rumput Laut, Lombok Timur Disiapkan Jadi Pusat Riset Internasional

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Profesor. Stella Cristie, Ph. D menegaskan, kemajuan ekonomi suatu negara sangat ditentukan oleh kekuatan sains, teknologi, dan inovasi.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan pusat riset rumput laut di Desa Ekas Buana Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur, Kamis 12 Pebruari 2026.
Menurut Prof. Stella, seluruh negara dengan perekonomian tinggi berhasil tumbuh karena menjadikan riset dan inovasi sebagai fondasi utama pembangunan.Tanpa sains dan teknologi yang kuat, sebuah negara sulit mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.Ia mengungkapkan, Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pangsa pasar global.
Nilai ekonomi rumput laut dunia tercatat mencapai sekitar 12 miliar dolar AS atau setara Rp198 triliun per tahun, dan diproyeksikan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi hilirisasi.
“Rumput laut bukan hanya komoditas mentah. Saat ini sudah tersedia teknologi untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi seperti biostimulan (pupuk hayati), bioplastik ramah lingkungan, hingga bioavtur sebagai bahan bakar pesawat,” jelasnya.
Prof. Stella menambahkan, pasar global biostimulan diperkirakan dapat mencapai hingga 180 miliar dolar AS, sementara bioplastik diproyeksikan menembus 30 miliar dolar AS menjelang 2030.
Namun, peluang ekonomi tersebut hanya dapat diraih jika Indonesia mampu melakukan riset dan hilirisasi secara serius.Dalam kesempatan itu, Prof. Stella menekankan pentingnya pengembangan budidaya rumput laut secara modern dan masif agar pasokan bahan baku stabil.Selama ini, sebagian besar pembudidaya masih mengandalkan hasil alam, yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan industri berbasis inovasi.Sebagai langkah konkret, pemerintah menggandeng berbagai pihak, termasuk Universitas Mataram, pemerintah daerah, serta sektor industri nasional melalui APINDO, untuk membangun ekosistem riset dan hilirisasi rumput laut.
Kolaborasi internasional juga diperkuat dengan melibatkan University of California, Berkeley serta Beijing Dynamic Institute dari Tiongkok.Kerja sama tersebut mencakup pertukaran peneliti, pengembangan teknologi genomik, serta pendanaan riset tahap awal senilai miliaran rupiah.Prof. Stella menyebutkan, laporan dari Harvard University yang menempatkan bioteknologi sebagai salah satu bidang paling strategis dalam menentukan daya saing suatu negara.Karena itu, riset rumput laut diarahkan tidak hanya untuk sektor pangan, tetapi juga energi dan material maju.
Ia mencontohkan penggunaan bioavtur yang mulai diuji pada maskapai Pelita Air, meski saat ini masih mengandalkan minyak jelantah sebagai bahan baku awal.Ke depan, rumput laut dipandang sebagai sumber energi berkelanjutan yang lebih menjanjikan.Prof. Stella mengajak masyarakat, khususnya para pembudidaya, untuk terlibat aktif dalam program riset tersebut.
Menurutnya, keberhasilan proyek ini tidak hanya bergantung pada akademisi dan pemerintah, tetapi juga partisipasi langsung masyarakat.“Tujuan riset ini satu, yaitu meningkatkan pengetahuan sekaligus kesejahteraan masyarakat. Kami ingin Lombok dan Indonesia menjadi pemain besar dalam industri rumput laut dunia,” tegasnya.Pusat riset yang mulai dibangun ini diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya industri baru berbasis rumput laut serta menghadirkan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat Lombok Timur dan Indonesia secara luas. (bsnn)




