Catatan RedaksiCatatan Ridwan Demmatadju

Post Power Syndrome di Balik Pilrek USN Kolaka ?

Ada Oknum Pejabat Politik-Pengusaha Tambang di Sultra Cawe-Cawe

Kita semua tahu apa itu penyakit mental bernama Post power syndrome adalah kondisi stres atau gangguan penyesuaian emosional saat seseorang kehilangan jabatan, kekuasaan, atau rutinitas kerjanya (seperti masa pensiun). Hal ini memicu kecemasan, rasa tidak berdaya, dan penurunan harga diri akibat belum bisa menerima perubahan.

Secara umum, dipicu oleh hilangnya identitas diri. Seseorang yang bertahun-tahun terbiasa dihormati, memiliki fasilitas, dan sibuk mengambil keputusan, tiba-tiba dihadapkan pada kekosongan waktu dan hilangnya status sosial tersebut secara drastis. Lalu mengapa penyakit mental ini muncul di arena perebutan kekuasaan di Pemilihan orang nomor satu atau Rektor Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka ?

Memang pilrek di perguruan tinggi dimanapun di Indonesia, apalagi pilrek di perguruan tinggi negeri tentu menjadi magnet tersendiri bagi elitpolitik nasional maupun lokal.Termasuk di Kampus USN Kolaka yang sedang menunggu tahapan terakhir.

Menjadi orang nomor satu di Kampus USN Kolaka, tentunya  menjanjikan bagi orang yang haus validasi untuk menguasai semuanya, mulai dari aset bergerak dan tidak bergerak,tenaga pendidik (tendik) tenaga pengajar (dosen) hingga sejumlah proyek bernilai milyaran itu.

Sejatinya warga masyarakat Kolaka khususnya civitas akademik di kampus merah maron mengetahui semua intrik dan cara-cara yang tidak beretika, hanya saja mereka takut bersuara menolak praktik kotor dari pihak yang merasa “masih berkuasa” dan diduga masih punya kepentingan dengan keberadaan kampus yang jadi kebanggan masyarakat Kolaka ini.

Mari kita telisik pelan-pelan sampai ke dalam pusaran Pemilihan Rektor USN Kolaka periode 2026-2030 sudah usai di tahap memaparkan visi, misi, dan rencana program strategis dari para kandidat rektor, kemudian Senat Universitas langsung menggelar pemungutan suara untuk menyaring lima bakal calon menjadi tiga nama Calon Rektor. Selasa (2/6).

Dari tahapan Pilrek USN Kolaka tersebut, petahana atau incumbent Rektor USN Kolaka, Prof. Dr. H. Nur Ihsan HL, M.Hum., berhasil mendominasi perolehan dengan mengantongi 12 suara. Angka ini menegaskan kuatnya kepercayaan Senat terhadap keberlanjutan program kerja yang dibawa oleh sang petahana.

​Posisi kedua ditempati oleh figur internal lainnya, Dr. Syarifuddin Tundreng, S.S., M.Pd., yang sukses mengamankan 8 suara setelah memikat Senat lewat pemaparan programnya. Sementara itu, satu tiket terakhir menuju babak final berhasil direbut oleh Ramadhan Tosepu, SKM., M.Kes., Ph.D., akademisi eksternal asal UHO, yang mengumpulkan 2 suara.

Peta kekuatan petahana nampaknya masih cukup kuat untuk menduduki kursi rektor untuk dua periode, dukungan mayoritas dari anggota senat menjadi modal petahana, sementara lawan petahana Dr. Syarifuddin Tundreng, S.S., M.Pd juga cukup modal untuk melawan petahana untuk merebut 35 persen suara kementerian.Dukungan suara kementerian menjadi kunci kemenangan di Pilrek USN Kolaka, sebagaimana lazimnya di Pilrek PTN di Indonesia.

​Tiga nama yang akan berebut suara di Pilrek USN Kolaka ini, tentunya masyarakat Sulawesi Tenggara kini menanti dengan penuh optimisme, siapakah di antara ketiga figur terbaik ini yang akan resmi memegang tongkat nakhoda baru untuk membawa USN Kolaka menjadi kampus yang unggul dan jadi kebanggan masyarakat di Kolaka dan Sulawesi Tenggara.

Kendati demikian, kini beredar kabar tak sedap di tengah pilrek yang memasuki babak terakhir yakni adanya dugaan politik transaksional (jual beli suara) yang diduga ada nama oknum pengusaha tambang di Kolaka dan oknum Bupati di salah satu wilayah di Sulawesi Tenggara yang patut diduga kuat ikut bermain di belakang salah satu calon Rektor USN Kolaka.

Dari data dan informasi yang dihimpun media ini, terungkap permainan kotor dan mencederai maruah kampus sebagai lembaga pendidikan yang bertugas mencetak generasi terbaik di Kolaka, sekalgus seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat di luar kampus, publik kini disuguhi cerita miring ini yang sudah jadi rahasia umum di kalangan warga Kampus  USN Kolaka. Dugaan kuat adanya praktik cawe-cawe (bahasa jawa) di Pilrek USN Kolaka oleh oknum pejabat politik di salah satu wilayah Sulawesi Tenggara ini sangat kasar terlihat dan tidak beretika dalam proses pembelajaran politik yang elegan di Kabupaten Kolaka. Namun, kerap kali elit politik yang berkuasa menghalalkan segala cara ?

Inilah bentuk drama politik di Pilrek USN Kolaka, istilah cawe-cawe ini populer digunakan untuk menggambarkan sikap seorang tokoh yang ikut campur atau proaktif dalam urusan tertentu, misalnya ikut mengawal arah kebijakan atau jalannya pemilihan umum agar sesuai dengan tujuan dan kepentingannya.

Konotasinya bisa berubah menjadi positif jika dianggap membantu mengamankan proses, atau negatif jika dianggap intervensi yang berpotensi menyalahgunakan kekuasaan.Sekaligus yang bakal jadi Rektor USN Kolaka yang terpilih nantinya jadi boneka yang dengan gampang dia atur sesuai kepentingannya, sekali lagi sesuai kepentingannya yang akan merusak tata kelolah kampus yang bersih dan berwibawa.

Ruang publik di Kabupaten Kolaka sangat yakin pasti semua akan terungkap siapa aktor intelektual dan bandar yang ikut bermain di belakang calon Rektor USN Kolaka. Dari sinilah, kita semua berharap Pilrek USN Kolaka berjalan dengan penuh etika dan menghasilkan pemipin yang bersih dari praktik curang apalagi dengan politik jual beli suara atau politik dagang sapi yang kini beredar luas dan sudah jadi rahasia umum di kalangan masyarakat kampus USN Kolaka. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button