Jumlah Dapur MBG Meningkat Hampir 100 Kali Lipat
Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional, Tigor Pangaribuan menyebut, program MBG diawali 190 dapur. Namun kini, jumlah dapur SPPG meningkat hampir 100 kali lipat, seiring percepatan program nasional.
Tigor mengakui, pembentukan dapur pada fase awal program tidak berjalan mudah. Keterbatasan pendanaan dan kesiapan pengelola menjadi kendala utama.
“Awalnya mencari 190 dapur sangat sulit. Banyak calon pengelola mundur karena harus menyiapkan modal sendiri,” ujarnya dalam diskusi publik ‘MBG outlook: Masa Depan Gizi Anak Indonesia’, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Ia menambahkan, pertumbuhan dapur meningkat setelah inovasi dan kerja sama lintas institusi dilakukan. Kolaborasi melibatkan kementerian, pemerintah daerah, dan berbagai pihak.
“Setelah ada inovasi dan kolaborasi, jumlah dapur meningkat sangat cepat. Pertumbuhannya hampir seratus kali lipat,” katanya.
Jumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tercatat 19.198 unit per 8 Januari 2026. Angka tersebut menunjukkan lonjakan signifikan dibanding tahap awal.
Pertumbuhan dapur berdampak langsung pada jumlah penerima manfaat program. Cakupan layanan terus meluas di berbagai daerah.
“Awalnya penerima manfaat sekitar 400 ribu orang. Saat ini jumlahnya mencapai sekitar 55 juta orang,” ujarnya.
BGN menargetkan jumlah dapur terus bertambah hingga April 2026. Target tersebut diiringi perluasan penerima manfaat nasional.
“Kami menargetkan 32 ribu dapur hingga April 2026. Penerima manfaat diperkirakan mencapai 82,9 juta orang,” katanya.
Tigor menambahkan, peningkatan dapur berdampak pada lonjakan kebutuhan bahan pangan. Ketersediaan pasokan menjadi perhatian utama BGN.
“Kebutuhan beras bisa mencapai tiga juta ton per tahun. Kebutuhan sayur rata-rata enam ton per bulan per dapur,” ujarnya.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI), Alven Stony menegaskan, pengusaha MBG tidak hanya menikmati anggaran negara. Ia menyebut, proses yang dijalani penuh perjuangan dan belum seluruhnya kembali modal.
“Jangan melihat kami pengusaha MBG ini senangnya saja, tetapi penuh perjuangan. Sampai hari ini kami juga belum kembali modal,” ujarnya.
Alven menilai, masih banyak masyarakat belum memahami proses yang dilalui pengusaha dan mitra program. Ia menyebut, perjuangan dilakukan bersama Badan Gizi Nasional dan mitra MBG.
“Masyarakat seolah melihat kami hanya menikmati APBN. Padahal banyak langkah yang sudah diperjuangkan bersama BGN,” katanya.
Upaya pengusaha MBG disebut masih penuh tantangan di lapangan. Alven berharap, pemahaman publik tumbuh terhadap proses dan perjuangan yang telah dijalani bersama. (bsnn)




