Ekonomi &Bisnis

Ekonomi China Melambat Akibat Lesunya Konsumsi dan Industri

Pertumbuhan ekonomi China mulai kehilangan tenaga pada April 2026 setelah produksi industri dan penjualan ritel mencatat hasil di bawah ekspektasi pasar di tengah tingginya harga energi dan lemahnya permintaan domestik.

Data Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan produksi industri hanya tumbuh 4,1% secara tahunan pada April 2026, melambat dibanding Maret yang mencapai 5,7%. Angka tersebut juga menjadi laju pertumbuhan terendah sejak Juli 2023 dan berada di bawah proyeksi Reuters sebesar 5,9%.

Perlambatan ekonomi terjadi saat China menghadapi tekanan kenaikan biaya energi akibat perang Iran serta lemahnya konsumsi rumah tangga.

Meski ekspor masih tumbuh lebih baik dari perkiraan, tingginya biaya produksi dinilai mulai menekan margin industri manufaktur dan berpotensi membebani belanja masyarakat.

“Kinerja eksportir yang kuat membantu mengurangi kelemahan dalam permintaan domestik, tetapi tidak cukup untuk sepenuhnya mengimbanginya,” ujar Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management Zhiwei Zhang dikutip dari Reuters, Senin (18/5/2026).

Ia memperkirakan pemerintah China belum akan mengubah kebijakan ekonomi hanya berdasarkan satu bulan data yang lemah dan kemungkinan baru melakukan evaluasi ulang pada Juli mendatang setelah data produk domestik bruto (PDB) kuartal II dirilis.

Dari sisi konsumsi, penjualan ritel China hanya tumbuh 0,2% pada April 2026, jauh melambat dibanding Maret yang mencapai 1,7%. Capaian tersebut menjadi yang terlemah sejak Desember 2022 dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 2%.

Penjualan mobil domestik bahkan tercatat turun 21,6% secara tahunan pada April dan menjadi penurunan ketujuh berturut-turut.

Ekonom Principal The Conference Board China Center Yuhan Zhang mengatakan, konsumsi rumah tangga di China masih rapuh.

“Pertumbuhan penjualan ritel dalam empat bulan pertama 2026 menunjukkan permintaan rumah tangga masih lemah, dengan konsumen lebih fokus pada pengeluaran selektif dan peningkatan gaya hidup dibanding konsumsi secara luas,” kata Yuhan Zhang.

Selain konsumsi dan industri, investasi aset tetap di China juga mengalami kontraksi 1,6% pada empat bulan pertama 2026, berbalik dari pertumbuhan 1,7% pada periode Januari-Maret.

Ekonom menilai perlambatan investasi dipengaruhi penurunan aktivitas konstruksi serta curah hujan tinggi di sejumlah wilayah selatan China.

Pada sisi lain, kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China pekan lalu memang membantu meredakan tensi perdagangan kedua negara. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan besar di bidang investasi maupun perdagangan.

Namun, China dan AS disebut sepakat memperluas perdagangan pertanian melalui pengurangan tarif dan penyelesaian hambatan nontarif. (bsnn)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button