DR. Syamsir Nur : “Sultra Tidak Hanya Tumbuh, Tapi Juga Lebih Produktif dan Kompetitif”
Potret Ekonomi Pembangunan ASR Konsisten
BPS Sulawesi Tenggara merilis pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada Triwulan IV-2025 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,94 persen, lebih tinggi dibanding periode yang sama pada tahun 2024. Secara kumulatif ditahun 2025, Sultra mencatatkan pertumbuhan 5,79 persen yang juga lebih tinggi dari tahun lalu 5,40 persen.
“Tumbuhnya 5,94 % pada Triwulan IV-2025 merupakan capaian pertumbuhan triwulanan tertinggi sejak tahun 2022. Kondisi yang menunjukkan bahwa para pelaku ekonomi lebih gesit di akhir tahun 2025,” kata Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulawesi Tenggara Syamsir Nur, Jumat (6 Februari 2026).
Doktor lulusan Universitas Brawijaya, Malang, ini mengatakan aktivitas pertumbuhan banyak diperankan sektor jasa keuangan, industri pengolahan makanan maupun aktivitas berbasis digital.
Dikatakan, capaian pertumbuhan kumulatif 5,79% tahun 2025 ini secara konsisten selalu lebih tinggi dibandingkan capaian nasional. Secara regional, Sultra juga tumbuh kuat, dan cukup kontributif dalam pembentukan “kue” ekonomi Sulawesi- karena menempati urutan ke-3 setelah Provinsi Sulteng dan Sulut.
“Kalau kita bandingkan dengan target RPJMD Sultra 2025-2029, capaian tahun 2025 berada pada target yang direncanakan ASR-Hugua untuk tahun ini yakni dikisaran 5,5-6,5%,” jelasnya.
Secara sektoral juga demikian. Kata Syamsir, sektor utama pembentuk PDRB Sultra mengalami capaian pertumbuhan yang melampaui target terutama industri pengolahan, akomodasi makan-minum, dan sektor perdagangan. Artinya, tahun pertama sangat positif karena terjadi peningkatan produktivitas ekonomi sektor unggulan.
Lebih jauh akademisi Universitas Halu Oleo ini mengatakan, adapun dari sisi pengeluaran, Net Ekspor menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu 2,35 persen. Relatif hampir sama besarnya dengan konsumsi rumah tangga 2,30 persen. Meskipun masih terbatas pada ekspor komoditas besi dan baja, namun perannya lebih baik jika dibanding tahun lalu.
“Tentu ini menjadi tantangan. Kedepannya, kita perlu melakukan diversifikasi ekspor komoditas terutama sektor pertanian, perikanan dan perkebunan. Basis potensi cukup besar dan tersebar di wilayah daratan maupun kepulauan,” tambahnya.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu juga mendorong industri agar nilai tambah (value added) lebih tinggi pada saat diekspor. Apalagi ada dukungan pemerintah pusat karena menjadikan Sulawesi sebagai superhub pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada hilirisasi SDA.
Adapun pengeluaran konsumsi rumah tangga yang terus tumbuh, Syamsir membacanya sebagai “signal” membaiknya daya beli masyarakat. Harga yang terjangkau serta efek kebijakan subsidi pemerintah mampu menjaga daya beli.
“Konsumsi masyarakat terus dikuatkan karena memicu aktivitas produksi apalagi menjadi penyumbang utama PDRB sebesar 46,01 persen tahun ini,” pungkasnya. (bsnn)




