Opini

Renungan Akhir Tahun

Penulis :Adiyanto

Di dinding ruang tamu rumah saya masih tergantung sebuah almanak. Di era teknologi yang kian canggih seperti sekarang ini, benda itu ibarat lembaran papirus, media bagi nenek moyang bangsa Mesir untuk menulis sebelum ditemukannya kertas. Kuno memang. Kecuali cicak yang kadang bersembunyi dan mungkin bercinta di baliknya, saya pun jarang melirik, apalagi menyentuh benda itu. Terakhir mungkin Juli, karena bulan itulah yang terpampang menjadi halaman muka benda tersebut.

Almanak atau kalender sebagian orang menyebutnya, adalah penanda waktu. Ia berfungsi seperti arloji. Di era modern, fungsi benda-benda itu cukup diringkas dan dibenamkan dalam gawai, bersama kalkulator, pengukur suhu, kamera, pemutar musik, dan berbagai platform aplikasi lainnya. Ironisnya, di zaman yang serba canggih ini, kita justru kadang malah lupa kehadiran sebagian dari benda-benda itu, meski tersimpan dalam genggaman.

Saya saja kadang masih suka bertanya kepada istri atau anak mengenai hari dan tanggal, meski jelas-jelas ada almanak dan punya gawai. Terlampau sibukkah atau terlalu banyak distraksi? Entahlah. Kata orang, manusia kini hidup di dua alam. Selain mencari nafkah, merawat dan membesarkan anak, bekerja, kuliah, sekolah, dan sebagainya, mereka juga sibuk menjelajah dan berinteraksi di dunia maya.

Sebagai anggota masyarakat digital, kita kini seolah dipaksa menjadi manusia multitalenta. Sambil makan, sembari baca email, atau membalas whatsapp sambil nyetir. Begitulah nalar algoritma mengubah perilaku manusia. Kita kini menjadi kurang peka, bahkan untuk kesehatan dan keselamatan diri sendiri. Penambahan kecepatan koneksi jaringan internet, dan kecanggihan sinyal telepon selular, seolah semakin mendorong manusia berpacu dengan waktu.

Berkejaran entah dengan siapa dan untuk apa. Ketergesaan inilah yang kadang membuat kita lupa pada lingkungan sekitar. Pada selokan yang mampet di depan rumah, pada anak-anak yang mulai beranjak dewasa dan butuh kawan diskusi, dan hal remeh-temeh lainnya, namun penting. Bahkan, kita kadang lupa untuk berdialog dengan diri sendiri. Itulah realita yang kita hadapi saat ini dan nanti.

Penggunaan massal internet telah memengaruhi tidak hanya politik, tapi juga kehidupan sosial dan budaya. Cara kita bergaul dengan sesama dan memandang diri kita, akan senantiasa digerakkan dan dipengaruhi nalar algoritma. Sebelum ini, tidak ada begitu banyak orang di banyak tempat, memegang kekuasaan begitu besar di ujung jari. Namun, satu hal yang mesti diingat, teknologi selalu punya dua sisi. Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita untuk bijak dan berhati-hati memanfaatkannya, agar tidak memicu anarki dan terperangkap menjadi digital slavery. Selamat Tahun Baru !

Adiyanto, Wartawan Media Indonesia

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button