RI Eksportir Sawit Terbesar, Mentan Marah Harga Minyak Goreng Mahal
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan minyak goreng tidak boleh langka dan mahal di dalam negeri, mengingat Indonesia merupakan produsen utama kelapa sawit dunia dengan pasokan bahan baku melimpah.
“Kita mengekspor minyak ke seluruh dunia. Kenapa (MinyaKita) naik? Enggak ada alasan minyak goreng naik di Indonesia,” ungkap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam pernyataan di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).
“Enggak boleh diberi ampun. Bagi orang yang ingin memanfaatkan bulan suci Ramadan itu harus ditindak,” tambahnya.
Penegasan tersebut disampaikan saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Kebayoran. Dalam sidak tersebut ditemukan minyak goreng rakyat merek MinyaKita masih dijual di atas harga eceran tertinggi (HET).
Produk yang seharusnya Rp 15.700 per liter dijual hingga Rp 19.000 per liter. Temuan itu langsung ditindaklanjuti dengan meminta aparat menelusuri hingga tingkat distributor dan produsen.
“Ini minyak goreng tertulis Rp 15.700 per liter. Tetapi dijual tadi Rp 19.000 per liter. Ini kami minta Pak Dirkrimsus Polda Metro Jaya, aku serahkan ini diproses hukum, segel unit usahanya. Tetapi jangan penjual, pengecernya, enggak boleh. Ini akan ditelusuri (distributornya),” tegasnya.
Sebagai bagian dari proses penelusuran, Mentan bahkan membeli dua kemasan MinyaKita untuk dijadikan barang bukti. “Ditelusuri sampai ke distributor besar dan perusahaan, jangan dilepas, diumumkan kalau sudah diproses,” tegasnya.
Ia menjelaskan secara global mekanisme supply and demand untuk komoditas sawit dan crude palm oil (CPO) berjalan normal. Namun, anomali harga di dalam negeri tidak dapat dibenarkan, mengingat posisi strategis Indonesia sebagai raksasa sawit dunia.
“Tetapi di Indonesia muncul anomali. Kita produsen terbesar dunia, kontribusi 58% produksi global dan 56% ekspor dunia, bahan bakunya melimpah, tetapi harga minyak goreng naik. Ini yang harus kita luruskan,” tegasnya di hadapan para pedagang dan aparat penegak hukum.
Dengan dominasi tersebut, ia menekankan tidak ada alasan minyak goreng menjadi mahal di dalam negeri. Menurutnya, kekuatan produksi sawit nasional harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat di dalam negeri.
Ia juga menegaskan pemerintah tidak berniat mengganggu pelaku usaha. Namun, seluruh sektor pangan wajib mematuhi regulasi, terutama pada bulan Ramadan ketika kebutuhan masyarakat meningkat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Nilai ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai US$ 24,42 miliar, meningkat 21,83% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 20,05 miliar.
“Angka ini menegaskan kekuatan sawit Indonesia sebagai tulang punggung pasar global,” ujar Amran.
Melalui pengawasan distribusi yang ketat, operasi pasar berkelanjutan, serta penegakan hukum yang tegas, tambah Amran, stabilitas harga dan ketersediaan pangan dipastikan tetap terjaga demi melindungi masyarakat. (bsnn)




