Internasional

Pakar: Perang Iran-AS Picu Perang Dunia III, Begini Petanya

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kekhawatiran global. Pakar Hukum Internasional Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Satria Unggul Wicaksana menilai perang AS-Israel vs Iran berpotensi memicu Perang Dunia III jika melibatkan kekuatan besar dunia.

Situasi Timur Tengah memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, seperti di Bahrain, Irak, Kuwait, Qatar, Suriah, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi.

Menurut Satria, konflik Iran-Israel-AS ini berisiko meluas karena Iran memiliki hubungan strategis dengan Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara.

“Ini bisa membawa situasi perang menjadi titik nadir. Peluang terjadinya Perang Dunia III sangat terbuka, dan ini sangat merugikan umat manusia,” katanya melalui siaran yang diterima, Senin (2/3/2026).

Ia menambahkan, keterlibatan negara-negara besar tersebut berpotensi memperluas konflik menjadi perang berskala global, apalagi dunia saat ini juga tengah diwarnai ketegangan lain, seperti perang Rusia-Ukraina, isu Selat Taiwan, serta konflik di Laut China Selatan.

Satria mengingatkan bahaya penggunaan senjata nuklir dalam konflik global. Menurutnya, perang nuklir tidak hanya menghancurkan populasi manusia, tetapi juga berpotensi memicu fenomena nuclear winter yang mengancam keberlangsungan kehidupan di bumi.

Dalam jangka pendek, ia menilai eskalasi perang Iran-Israel-AS dapat memicu krisis energi global. Jalur distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Eropa dan Asia melewati Selat Hormuz yang berada di bawah pengaruh Iran.

Jika Iran melakukan blokade Selat Hormuz, dampaknya akan sangat besar terhadap pasokan energi dunia. Selain itu, jalur perdagangan global juga bergantung pada Terusan Suez di Mesir.

“Ini bukan hanya soal perang, tetapi juga dapat melumpuhkan ekonomi dan perdagangan global serta memicu krisis ekonomi dunia yang lebih masif,” jelas Satria.

Ia menyebut gangguan terhadap Selat Hormuz dan Terusan Suez dapat berdampak pada lebih dari 30% perdagangan global, termasuk lonjakan harga minyak dunia dan gangguan rantai pasok internasional.

Satria juga menyoroti kemungkinan Iran menjadi arena konflik geopolitik negara-negara besar, seperti yang pernah terjadi di Suriah. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan dan meningkatkan jumlah korban sipil.

Karena itu, ia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya Dewan Keamanan PBB, untuk mengambil langkah tegas menghentikan konflik bersenjata tersebut.

Ia juga menyinggung inisiatif perdamaian yang sempat digagas AS melalui Board of Peace (BoP). Namun, menurutnya, langkah tersebut menjadi kontradiktif setelah serangan terhadap Iran justru terjadi beberapa hari setelah kesepakatan ditandatangani di Washington.

“Para pemimpin dunia wajib menahan diri dari penggunaan kekuatan militer, terutama yang melibatkan senjata pemusnah massal,” ujar pria yang juga dekan Fakultas Hukum Umsura tersebut.

Konflik Iran-Israel-AS kini menjadi perhatian global karena dampaknya tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menyentuh stabilitas ekonomi, energi, dan keamanan internasional. (bsnn)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button