Hayati Aras Tampil Memukau Penonton di Hari Tari Sedunia 2026
500 Penari dari SMAN 4 Kendari terlibat di Tari Meambo yang dipadukan Tarian Massal Lulo

Hari Tari Dunia, atau International Dance Day, diperingati setiap tahun pada 29 April untuk merayakan seni tari sebagai bahasa universal yang menyatukan dunia. Tari bukan sekadar rangkaian gerakan tubuh yang mengikuti irama musik, melainkan ekspresi jiwa dan media penyampai pesan.
Demikian pula yang berlangsung di SMAN 4 Kendari, juga ambil bagian dalam kegiatan hari tari dunia yang digelar dihalaman sekolah dengan menampilkan 500 penari yang dibina oleh Hayati Aras,S.Pd.M.Hum. sebagai guru seni budaya di sekolah itu dengan mengusung tema ” Dance Continuty, Merawat Gerak Menjaga Makna”
Dari penampilan Tarian massal Lulo yang dikemas dengan Meambo Kolaborasi ini menarik perhatian penonton, Karena setiap gerak mengandung makna simbolik yang mencerminkan identitas, nilai, serta sejarah suatu masyarakat yang bertujuan mempromosikan partisipasi serta pendidikan tari secara global, khususnya Tarian Lolu secara global.
Menurut Hayati Aras sebagai penari sekaligus koreografer tari menerangkan bahwa Seni Tari,selain sebagai ekspresi budaya, seni tari juga terbukti memberikan manfaat bagi kesehatan. Penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas menari dapat meningkatkan kebugaran fisik, mengurangi stres, serta membantu menjaga kesehatan mental dan emosional. Mengusung tema lokal yang fokus pada pelestarian tradisi dan ekspresi budaya nusantara. Penampilan penari dari siswa-siswi SMAN 4 Kendari ini memukau pentonton.

“Hari Tari Sedunia akhirnya bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat bahwa tari adalah warisan hidup. Selama manusia masih memiliki rasa dan keinginan untuk bercerita, tari akan terus hadir, berkembang, dan menjadi jembatan yang menghubungkan budaya di seluruh dunia” ujar Putri Aras panggilan akrabnya kepada sejumlah media tadi pagi.
Berikut sinopsis tarian yang digarap Hayati Aras tersebut : Sendiri merajut tekad pada kekuatan untuk kembali berdiri setelah mengalami keterpurukan,konlfik atau masa kelam yang sudah menggambarkan masa transisi dari rasa putus asa atau beban berat menuju titik pencerahan dan kembali kejayaan dan kesucian agar tetap abadi Bangkit berdiri kembali menuju masa depan cerah.
Kegiatan ini, Putri Aras menyampaikan bahwa pagelaran ini merupakan agenda tahunan yang berlangsung hari ini, dan proses penggarapan tarinya hanya dua hari dan tuntas untuk dipentaskan secara terbuka di tengah guyuran hujan yang membasahi lapangan sekolah.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya seni tari sebagai bagian dari jati diri budaya.
“Ke depan, pelaksanaan agar semakin baik melalui masukan berbagai pihak,bukan sekadar seremoni. Tetapi dibutuhkan komitmen bersama dengan semua pihak dalam melestarikan dan mengembangkan seni tari sebagai identitas budaya bangsa,” ungkapnya.
Alumnus Pendidikan Seni Tari UNM ini, menegaskan bahwa tari merupakan bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan serta menjadi media ekspresi yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal. (bsnn)
.




