SBY Khawatirkan Perang Iran dengan Israel dan AS Meluas

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dinamika konflik di Timur Tengah pascaserangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
SBY menilai konflik tersebut berpotensi meluas dan berdampak global.
“Kalau peperangan ini membesar, tentu implikasinya bukan hanya bagi Timur Tengah, tetapi juga banyak kawasan lain di dunia,” ujar SBY dalam dialog bersama anggota Komisi I DPR dari Fraksi Demokrat, Rizki Aulia Rahman Natakusumah, yang ditayangkan melalui akun YouTube resmi SBY, Selasa (3/3/2026).
Menurut SBY, perkembangan dalam tiga hari terakhir menunjukkan eskalasi yang signifikan. Konflik yang awalnya melibatkan Israel dan Amerika Serikat melawan Iran kini dinilai semakin kompleks.
Ia menyoroti ancaman Iran sebelumnya seluruh instalasi militer AS di Timur Tengah dapat menjadi sasaran jika negaranya diserang. Situasi tersebut,menurutnya kini mulai terjadi dan mendorong negara-negara lain ikut terseret.
Sejumlah negara kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Oman disebut turut terdampak serangan balasan Iran.
“Ini sudah menjadi perang regional karena ada aksi saling membalas antarnegara,” kata SBY.
Soroti Potensi Keterlibatan NATO
SBY juga menyinggung serangan terhadap pangkalan militer Inggris di Siprus dan mempertanyakan implikasinya terhadap Pasal 5 NATO. Berdasarkan ketentuan tersebut, serangan terhadap satu anggota dapat memicu respons kolektif seluruh anggota NATO.
Ia mengingatkan, jika negara-negara NATO ikut terlibat, maka potensi keterlibatan kekuatan besar lain seperti Rusia, China, dan Korea Utara dapat memperluas konflik menjadi lebih berbahaya.
“Ini sangat berbahaya. Mudah-mudahan tidak sampai ke sana,” ujarnya.
Dampak Ekonomi Global
Selain aspek militer, SBY menilai konflik ini juga berpotensi memicu disrupsi ekonomi global. Ketidakstabilan kawasan Timur Tengah dapat berdampak pada energi, perdagangan, hingga stabilitas geopolitik internasional.
SBY berharap muncul kesadaran kolektif untuk melakukan deeskalasi dan menahan diri demi mencegah konflik semakin meluas.
“Harapan kita adalah adanya langkah deeskalasi dan pengendalian diri agar situasi tidak semakin memburuk,” pungkasnya.




