Puspresnas Kemendikdasmen Perkuat Ekosistem Talenta Melalui Kurasi Nasional
Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Puspresnas Kemendikdasmen) melakukan program kurasi ajang dan sertifikat sejak 2023. Langkah ini memperkuat standar kompetisi dan membangun ekosistem talenta nasional kredibel.
Kepala Puspresnas, Maria Veronica Irene Herdjiono mengatakan, kurasi bukan sekadar administrasi. Menurutnya, kurasi menjadi mekanisme pengendalian mutu pencarian dan pengembangan talenta.
Program ini terintegrasi dengan Sistem Informasi Manajemen Talenta. Sistem tersebut menjadi basis data nasional siswa berprestasi.
Ia mengatakan, kurasi ajang memastikan kualitas kompetisi bidang sains, olahraga, dan seni budaya. Adapun setiap penyelenggara wajib mengajukan kurasi setiap penyelenggaraan ajang.
Penilaian mencakup sistem kompetisi, metode seleksi, dan mekanisme pengawasan. “Proses penilaian melibatkan 100 kurator yang memeriksa kelengkapan administrasi,” kata Irene dalam Dialog Kebijakan Kemendikdasmen bersama Fortadik di Tangerang, Banten, Minggu, 1 Maret 2026.
Ia mengatakan, setiap ajang dinilai dua kurator dan satu evaluator. Hasilnya ditetapkan dalam predikat bintang sesuai standar mutu.
Menurutnya, ajang harus memurnikan dan menemukan talenta. “Ini bentuk perlindungan bagi peserta dan orang tua,” ucap Irene.
Selain kurasi ajang, Puspresnas menerapkan kurasi sertifikat. Sekolah dapat mengajukan prestasi siswa untuk diverifikasi nasional.
Sertifikat yang lolos kurasi dinyatakan valid dan tercatat sistem nasional. Dokumen itu dapat digunakan untuk seleksi pendidikan dan beasiswa.
Sejak diluncurkan 2023, Sistem Informasi Manajemen Talenta (SMIT) menghimpun hampir 400 ribu siswa. Data tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Basis data menjadi fondasi perumusan kebijakan pembinaan talenta. Pemerintah juga menggunakannya untuk pemberian apresiasi dan program lanjutan.
Salah satu program lanjutan ialah Bintang Talenta Indonesia. Program ini mendukung pembinaan talenta berjenjang dan berkelanjutan.
Menurut Irene, pendekatan ini memastikan pembinaan menjangkau seluruh wilayah. Sekolah menjadi gerbang awal penjaringan talenta.
Ia menekankan penjaringan dimulai dari satuan pendidikan. “Prinsip kami inklusif dan semua anak harus mendapat kesempatan,” ujarnya.
Meski partisipasi meningkat, sosialisasi dinilai masih perlu diperluas. Upaya tersebut termasuk menjangkau kota-kota besar.
Kolaborasi dengan dinas pendidikan dan sekolah terus didorong. Informasi kompetisi diharapkan lebih mudah diakses siswa dan orang tua.
Ke depan, integrasi kompetisi dan kurasi akan terus diperkuat. Ekosistem prestasi nasional diharapkan transparan dan berdaya saing global. (bsnn)




