Sosok & Tokoh

Proficiat Dr Yade Setiawan Ujung, Jenderal Muda Polri

Tidak semua pengabdian lahir dari sorot lampu. Sebagian justru tumbuh dalam diam di sela tugas yang berulang, di bawah disiplin yang tak selalu terlihat, dan dalam kesetiaan pada proses yang panjang. Di situlah–sering kali–watak kepemimpinan ditempa. Kisah Dr Yade Setiawan Ujung berdiri di jalur ini: bukan tentang percepatan, melainkan tentang ketekunan yang menolak jalan pintas.

Ia memulai dari titik yang paling dasar Pamapta di Polresta Surakarta pada 2000. Jalanan menjadi ruang belajar pertama. Di sana, hukum bukan sekadar pasal, melainkan perjumpaan dengan manusia: dengan cemas, marah, harap, dan ketidakpastian. Pengalaman membentuk naluri. Keamanan bukan hanya soal ketertiban, tetapi juga tentang kepercayaan.

Kariernya bergerak tanpa gaduh. Dari kapolsek, kanitreskrim, hingga berbagai posisi strategis di Polda Metro Jaya, ruang yang dikenal tak pernah sederhana. Jakarta, dengan segala lapisan problematikanya, menuntut lebih dari sekadar ketegasan. Ia menuntut kepekaan. Dan di sanalah, Yade mengasah keseimbangan: antara hukum yang harus tegak dan masyarakat yang perlu dirangkul.

Puncak pertama dari narasi kepemimpinannya tampak saat ia menjabat kapolres Malang pada 2016. Di tanah dengan kultur kuat dan relasi sosial yang rapat, ia memilih pendekatan yang tak hanya operasional, tetapi juga dialogis. Ia memahami bahwa keamanan tidak bisa dipaksakan dari atas; ia harus dibangun dari dalam melalui kepercayaan publik yang dirawat. Penegakan hukum, dalam pandangannya, tidak berdiri sendiri. Ia berjalan berdampingan dengan komunikasi yang jujur dan keterlibatan masyarakat yang nyata.

Apa yang ia kerjakan di Malang tidak berhenti sebagai praktik. Ia merumuskannya. Ia menuliskannya. Bhayangkara di Bumi Arema menjadi semacam jembatan antara pengalaman lapangan dan pengetahuan yang bisa diwariskan. Sebuah upaya yang jarang: ketika seorang praktisi memilih untuk berhenti sejenak, lalu merefleksikan kerjanya menjadi gagasan.

Pada titik ini, Yade memperlihatkan satu hal yang kerap dilupakan dalam birokrasi: tradisi belajar. Dari S-1 hukum di Surakarta, S-2 di Universitas Indonesia, hingga doktor kebijakan publik di Universitas Padjadjaran, ia tidak sekadar mengumpulkan gelar. Ia merawat cara berpikir. Ia mengolah pengalaman menjadi kerangka, dan kerangka menjadi arah.

Prestasinya dalam jalur pendidikan kepolisian seolah menegaskan konsistensi itu. Lulusan terbaik di setiap jenjang strategis Akpol, PTIK, Sespimmen, hingga Sespimti bukan hanya deretan penghargaan. Ia adalah cerminan dari satu sikap: kepemimpinan bukan semata posisi, melainkan kesiapan untuk terus ditempa.

Pengalaman internasional dari ILEA Bangkok hingga IVLP di Amerika Serikat memperluas cakrawala. Dunia keamanan tidak lagi lokal. Ia lintas batas, lintas kepentingan, dan lintas risiko. Di sana, seorang perwira tidak hanya menjadi penegak hukum, tetapi juga bagian dari jejaring global yang menjaga stabilitas.

Pasca-penugasan wilayah, langkahnya beralih ke ruang-ruang yang lebih sunyi tetapi menentukan. Dari Biroops Polda Sulawesi Tengah, sekpri wakapolri, hingga direktur kerja sama internasional BIN Baintelkam Polri, ia bergerak pada simpul yang menghubungkan operasi dengan kebijakan. Di sana, keputusan tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya meluas.

Penugasan sebagai asisten deputi bidang koordinasi kamtibmas di Kemenko Polkam pada 2025, disusul kenaikan pangkat menjadi brigadir jenderal polisi pada awal 2026, menjadi semacam penanda. Bukan garis akhir, melainkan fase baru. Fase yang menuntut ketenangan berpikir di tengah kompleksitas, serta kemampuan merajut banyak kepentingan menjadi satu arah kebijakan.

Namun, mungkin yang paling menarik dari perjalanan ini bukanlah daftar jabatan atau penghargaan, meski keduanya tak sedikit. Dua Pin Emas Kapolri, apresiasi pelayanan publik, hingga pengakuan atas penanganan isu anak dan Satgas Nusantara hanyalah penanda luar. Yang lebih penting adalah benang merahnya: konsistensi.

Bahkan saat pandemi Covid-19 melanda, ia kembali pada tradisi yang sama mencatat, merefleksikan, dan membagikan. Waspadai The Next Covid bukan sekadar buku, melainkan peringatan bahwa krisis akan selalu datang dalam bentuk baru, dan satu-satunya cara bertahan adalah dengan belajar lebih cepat dari pengalaman.

Di tengah lanskap keamanan yang kian kompleks disertai ancaman yang tidak lagi kasat mata dan batas antara lokal dan global semakin kabur, figur seperti Yade menjadi penting. Ia bukan sekadar perwira yang menapaki jenjang, tetapi penghubung antara lapangan dan strategi, antara pengalaman dan kebijakan.

Kisah ini, pada akhirnya, bukan tentang seorang individu semata. Ia adalah pengingat bahwa institusi yang kuat tidak lahir dari retorika, melainkan dari manusia-manusia yang bekerja dalam senyap. Yang setia pada proses. Yang percaya bahwa waktu, pada akhirnya, akan membuktikan.

Proficiat, Jenderal. Pengabdian yang tenang seperti ini justru yang paling lama bergema.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button